Wednesday, May 5, 2004

Saad bin Amir al-Jumahi

Saad bin Amir al-Jumahi memeluk Islam sebelum kejatuhan Khaibar yaitu pada bulan Safar, 7 Hijrah. Di kalangan sahabat namanya tidak terlalu menonjol. Namun begitu sejarah kehidupan Saad penuh dengan contoh teladan.

Beberapa kejadian dalam kehidupan Saad dapat mengungkapkan mengenai ketinggian peribadinya. Dalam aspek kepemimpinan adalah yang paling menonjol. Sebagai pemimpin umat beliau memiliki beberapa sifat yang terpuji.

Pertama, Saad tidak memandang jabatan sebagai harta perhiasan dunia
yang perlu dikejar serta dibanggakan. Sewaktu Umar bin Khattab enjadi
khalifah, Saad dilantik sebagai Gubernur Homs. Sejak awal lagi, dia eberatan untuk menerima perlantikan itu. Katanya kepada Amirul Mukminin, "Janganlah saya dihadapkan kepada fitnah!" Mendengar jawapan itu Umar berkata, "Tidak, demi Allah aku tidak mau melepaskan kamu! Apakah kamu hendak membebankan amanah dan khilafah di atas bahuku,kemudian kamu meninggalkan aku?" Akhirnya dengan rasa berat dia menerima juga pelantikan itu.

Kedua, tanggungjawab terhadap amanah merupakan sifat yang dijunjung tinggi oleh Saad. Dengan itu dia berupaya mengerahkan segala kemampuannya sebaik mungkin, termasuk keuangan. Dia berusaha pula mengendali serta menjelaskan sikapnya kepada isterinya. Setelah selesai pelantikan diadakan, Saad dan isterinya berangkat ke kota Homs. Khalifah membekal-kannya uang secukupnya serta keperluan hidupnya yang lain.

Suatu ketika sewaktu kedudukan Saad telah agak stabil, isterinya mengemukakan satu permintaan. Dia ingin membeli pakaian, perabot rumah tangga menggunakan sebagian harta yang dikumpulkan. Melihat
keinginan isterinya itu, Saad berkata, "Maukah aku tunjukkan yang lebih baik daripada rancanganmu itu? Kita berada di satu negeri yang sangat pesat dengan urusan jual beli yang menguntungkan. Lebih baik kita serahkan harta ini kepada yang dapat mengembangkan harta kita sehingga keuntungan yang besar akan selalu kita peroleh!"

Mendengar janji yang sangat menarik itu, isterinya menerima usulan
itu dan menyerahkan uang kepada Saad. Waktu terus berlalu. Setiap kali
si isteri bertanya mengenai uang simpanannya, Saad menyatakan keadaan-nya baik dan berjalan lancar. Bahkan urusan perniagaan dari hari ke hari semakin bertambah dan banyak keuntungan yang diperoleh.

Karena Saad selalu memberi jawapan demikian, pada satu hari isterinya
bertanya kepada salah seorang sahabat yang mengetahui kedudukan hal yang sebenar. Setelah didesak, akhirnya sahabat itu memberitahu
bahwa Saad telah menginfaqkan hartanya di jalan Allah.

Ketiga, Saad bukanlah jenis pegawai yang menafkahkan hartanya sekadar sebagai simbolik sedangkan sebenarnya dia berupaya mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Pengorbanannya sebagai seorang pemimpin begitu besar dan harga dirinya begitu tinggi sehingga Umar sendiri pun terkejut mendengar mengenai kehidupan rumah tangga Saad.
Suatu ketika Umar mengirim wakil ke Homs untuk meninjau keadaan
pemerintahan di sana. Ketika wakil itu kembali ke Madinah, Umar
meminta daftar penduduk Homs yang tergolong dalam kategori fakir
miskin.

Sewaktu Umar meneliti laporan itu, dia melihat nama Saad dimasukkan
sebagai orang yang perlu mendapat bantuan karena kemiskinannya. Umar bertanya kepada wakil itu, "Betulkah Gubernur kamu ini miskin?" Jawab mereka, "Benar, ya Amirul Mukminin. Demi Allah di rumahnya selalu tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak)!"

Mendengar jawaban itu, menitislah air mata Umar. Dia menyuruh wakilnya menyerahkan kantong berisi uang untuk bekal kehidupan Saad. Sewaktu menerima kiriman dari Umar itu, Saad mengucapkan, "Innalillahi inna ilaihi roji'un!" Dia terus memanggil isterinya dan memerintahkan-nya supaya membagikan uang itu kepada fakir miskin.

Keempat, Saad sentiasa bersifat berlapang dada terhadap berbagai
kritikan yang datang daripada rakyatnya. Sebenarnya memang sebelum
kedatangan Saad pun, penduduk Homs sudah terkenal sebagai golongan yang banyak menuntut itu dan ini.

Homs pada ketika itu dikenali sebagai Kuwaifah (Kufah kecil) karena
penduduknya yang mirip dengan orang Kufah, yaitu senang melapor kepada pemerintah pusat akan kelemahan yang dianggap ada pada gubenur mereka.

Suatu ketika Umar datang ke Homs. Kesempatan itu digunakannya untuk mendapatkan pandangan rakyatnya. Dalam satu majlis dia mempersilakan rakyat menyampaikan rasa tidak puas hati terhadap pemimpin mereka.Tanpa ragu sedikit pun mereka mengemukakan empat tuntutan kepada khalifah yaitu

1. Gubernur baru keluar dari rumah setelah matahari tinggi,
2. tidak bersedia melayani rakyat pada malam hari,
3. dalam sebulan ada sehari tidak datang ke kantor sehari penuh dan
4. kadangkala gubernur jatuh pingsan di hadapan umum.

Umar menerima kritikan itu dan kemudian mempersilakan Saad mengajukan pembelaan-nya. Saad berkata, "Mengenai tuduhan mereka bahwa saya tidak hendak keluar sebelum matahari tinggi, maka demi Allah, sebetul-nya saya tidak hendak menyebutkannya ... keluarga kami tidak memilikipembantu. Oleh itu setiap pagi terpaksa saya membantu membuat adonan roti terlebih dahulu untuk keluarga saya. Sesudah adonan itu siap dimasak, barulah saya buat roti. Kemudia saya berwudhu untuk solat Dhuha. Sesudah itu saya berangkat ke tempat bertugas.

Mengenai kritikan kedua, saya telah membagi waktu saya. Siang hari
untuk melayani masyarakat dan malam hari untuk bertaqarrub ilallah.

Mengenai kritikan ketiga, seperti yang telah saya terangkan tadi, saya
tidak mempunyai pelayan atau pembantu rumah tangga. Di samping itu
saya hanya memiliki pakaian yang melekat di badan ini. Saya mencucinya sebulan sekali. Bila mencucinya saya menunggu kering lebih dahulu.Selepas itu barulah saya dapat pergi melayani masyarakat.

Tentang kritikan keempat, ketika saya masih jahiliah saya pernah
menyaksikan almarhum Khubaib bin Adi dihukum oleh kaum Quraisy yang kafir. Saya menyaksikan tubuhnya dicincang oleh orang Quraisy. Mereka bawa tubuh itu dengan tandu sambil bertanya kepada Khubaib, 'Maukah tempatmu ini diisi oleh Muhammad sebagai gantimu, sedang kamu beradadalam keadaan sehat wal afiat?' Jawab Khubaib, 'Demi Allah, saya tidak ingin berada dalam lingkungan anak isteriku diliputi keselamatan dan kesenangan dunia manakala Rasulullah SAW ditimpa bencana walau olehtusukan duri sekalipun...' "Setiap kali saya terkenang peristiwa itu tubuh saya gementar karena takut akan siksa Allah dan saya merasa berdosa karena pada waktu itu saya tidak dapat membantu Khubaib sedikit pun. Dan saya berasa dosa saya tidak akan diampuni Allah SWT...!"

Saad mengakhiri kata-katanya dengan titisan air mata di kedua belah
pipinya. Mendengar alasan Saad itu, Umar pun tidak dapat menahan rasa terharunya. Dipeluknya gubernurnya itu sambil berkata, "Alhamdulillah karena dengan taufiq-Nya firasatku tidak meleset."

Sumber: http://www.freewebs.com/abuharits/id42.htm



Saad bin Amir al-Jumahi memeluk Islam sebelum kejatuhan Khaibar yaitu pada bulan Safar, 7 Hijrah. Di kalangan sahabat namanya tidak terlalu menonjol. Namun begitu sejarah kehidupan Saad penuh dengan contoh teladan.

Beberapa kejadian dalam kehidupan Saad dapat mengungkapkan mengenai ketinggian peribadinya. Dalam aspek kepemimpinan adalah yang paling menonjol. Sebagai pemimpin umat beliau memiliki beberapa sifat yang terpuji.

Pertama, Saad tidak memandang jabatan sebagai harta perhiasan dunia
yang perlu dikejar serta dibanggakan. Sewaktu Umar bin Khattab enjadi
khalifah, Saad dilantik sebagai Gubernur Homs. Sejak awal lagi, dia eberatan untuk menerima perlantikan itu. Katanya kepada Amirul Mukminin, "Janganlah saya dihadapkan kepada fitnah!" Mendengar jawapan itu Umar berkata, "Tidak, demi Allah aku tidak mau melepaskan kamu! Apakah kamu hendak membebankan amanah dan khilafah di atas bahuku,kemudian kamu meninggalkan aku?" Akhirnya dengan rasa berat dia menerima juga pelantikan itu.

Kedua, tanggungjawab terhadap amanah merupakan sifat yang dijunjung tinggi oleh Saad. Dengan itu dia berupaya mengerahkan segala kemampuannya sebaik mungkin, termasuk keuangan. Dia berusaha pula mengendali serta menjelaskan sikapnya kepada isterinya. Setelah selesai pelantikan diadakan, Saad dan isterinya berangkat ke kota Homs. Khalifah membekal-kannya uang secukupnya serta keperluan hidupnya yang lain.

Suatu ketika sewaktu kedudukan Saad telah agak stabil, isterinya mengemukakan satu permintaan. Dia ingin membeli pakaian, perabot rumah tangga menggunakan sebagian harta yang dikumpulkan. Melihat
keinginan isterinya itu, Saad berkata, "Maukah aku tunjukkan yang lebih baik daripada rancanganmu itu? Kita berada di satu negeri yang sangat pesat dengan urusan jual beli yang menguntungkan. Lebih baik kita serahkan harta ini kepada yang dapat mengembangkan harta kita sehingga keuntungan yang besar akan selalu kita peroleh!"

Mendengar janji yang sangat menarik itu, isterinya menerima usulan
itu dan menyerahkan uang kepada Saad. Waktu terus berlalu. Setiap kali
si isteri bertanya mengenai uang simpanannya, Saad menyatakan keadaan-nya baik dan berjalan lancar. Bahkan urusan perniagaan dari hari ke hari semakin bertambah dan banyak keuntungan yang diperoleh.

Karena Saad selalu memberi jawapan demikian, pada satu hari isterinya
bertanya kepada salah seorang sahabat yang mengetahui kedudukan hal yang sebenar. Setelah didesak, akhirnya sahabat itu memberitahu
bahwa Saad telah menginfaqkan hartanya di jalan Allah.

Ketiga, Saad bukanlah jenis pegawai yang menafkahkan hartanya sekadar sebagai simbolik sedangkan sebenarnya dia berupaya mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Pengorbanannya sebagai seorang pemimpin begitu besar dan harga dirinya begitu tinggi sehingga Umar sendiri pun terkejut mendengar mengenai kehidupan rumah tangga Saad.
Suatu ketika Umar mengirim wakil ke Homs untuk meninjau keadaan
pemerintahan di sana. Ketika wakil itu kembali ke Madinah, Umar
meminta daftar penduduk Homs yang tergolong dalam kategori fakir
miskin.

Sewaktu Umar meneliti laporan itu, dia melihat nama Saad dimasukkan
sebagai orang yang perlu mendapat bantuan karena kemiskinannya. Umar bertanya kepada wakil itu, "Betulkah Gubernur kamu ini miskin?" Jawab mereka, "Benar, ya Amirul Mukminin. Demi Allah di rumahnya selalu tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak)!"

Mendengar jawaban itu, menitislah air mata Umar. Dia menyuruh wakilnya menyerahkan kantong berisi uang untuk bekal kehidupan Saad. Sewaktu menerima kiriman dari Umar itu, Saad mengucapkan, "Innalillahi inna ilaihi roji'un!" Dia terus memanggil isterinya dan memerintahkan-nya supaya membagikan uang itu kepada fakir miskin.

Keempat, Saad sentiasa bersifat berlapang dada terhadap berbagai
kritikan yang datang daripada rakyatnya. Sebenarnya memang sebelum
kedatangan Saad pun, penduduk Homs sudah terkenal sebagai golongan yang banyak menuntut itu dan ini.

Homs pada ketika itu dikenali sebagai Kuwaifah (Kufah kecil) karena
penduduknya yang mirip dengan orang Kufah, yaitu senang melapor kepada pemerintah pusat akan kelemahan yang dianggap ada pada gubenur mereka.

Suatu ketika Umar datang ke Homs. Kesempatan itu digunakannya untuk mendapatkan pandangan rakyatnya. Dalam satu majlis dia mempersilakan rakyat menyampaikan rasa tidak puas hati terhadap pemimpin mereka.Tanpa ragu sedikit pun mereka mengemukakan empat tuntutan kepada khalifah yaitu

1. Gubernur baru keluar dari rumah setelah matahari tinggi,
2. tidak bersedia melayani rakyat pada malam hari,
3. dalam sebulan ada sehari tidak datang ke kantor sehari penuh dan
4. kadangkala gubernur jatuh pingsan di hadapan umum.

Umar menerima kritikan itu dan kemudian mempersilakan Saad mengajukan pembelaan-nya. Saad berkata, "Mengenai tuduhan mereka bahwa saya tidak hendak keluar sebelum matahari tinggi, maka demi Allah, sebetul-nya saya tidak hendak menyebutkannya ... keluarga kami tidak memilikipembantu. Oleh itu setiap pagi terpaksa saya membantu membuat adonan roti terlebih dahulu untuk keluarga saya. Sesudah adonan itu siap dimasak, barulah saya buat roti. Kemudia saya berwudhu untuk solat Dhuha. Sesudah itu saya berangkat ke tempat bertugas.

Mengenai kritikan kedua, saya telah membagi waktu saya. Siang hari
untuk melayani masyarakat dan malam hari untuk bertaqarrub ilallah.

Mengenai kritikan ketiga, seperti yang telah saya terangkan tadi, saya
tidak mempunyai pelayan atau pembantu rumah tangga. Di samping itu
saya hanya memiliki pakaian yang melekat di badan ini. Saya mencucinya sebulan sekali. Bila mencucinya saya menunggu kering lebih dahulu.Selepas itu barulah saya dapat pergi melayani masyarakat.

Tentang kritikan keempat, ketika saya masih jahiliah saya pernah
menyaksikan almarhum Khubaib bin Adi dihukum oleh kaum Quraisy yang kafir. Saya menyaksikan tubuhnya dicincang oleh orang Quraisy. Mereka bawa tubuh itu dengan tandu sambil bertanya kepada Khubaib, 'Maukah tempatmu ini diisi oleh Muhammad sebagai gantimu, sedang kamu beradadalam keadaan sehat wal afiat?' Jawab Khubaib, 'Demi Allah, saya tidak ingin berada dalam lingkungan anak isteriku diliputi keselamatan dan kesenangan dunia manakala Rasulullah SAW ditimpa bencana walau olehtusukan duri sekalipun...' "Setiap kali saya terkenang peristiwa itu tubuh saya gementar karena takut akan siksa Allah dan saya merasa berdosa karena pada waktu itu saya tidak dapat membantu Khubaib sedikit pun. Dan saya berasa dosa saya tidak akan diampuni Allah SWT...!"

Saad mengakhiri kata-katanya dengan titisan air mata di kedua belah
pipinya. Mendengar alasan Saad itu, Umar pun tidak dapat menahan rasa terharunya. Dipeluknya gubernurnya itu sambil berkata, "Alhamdulillah karena dengan taufiq-Nya firasatku tidak meleset."

Sumber: http://www.freewebs.com/abuharits/id42.htm

No comments: